Unsur kebahasaan novel Ronggeng Dukuh Paruk

Diposting pada

Unsur kebahasaan novel Ronggeng Dukuh Paruk:

Jawaban
Majas personifikasi:
• Tetes-tetes embuh jatuh menimbulkan suara desahan-desahan musik yang serempak.
• Dalam kerimbunan daun-daunnya sedang dipagelarkan merdunya harmoni alam yang melantunkan kesyahduan.
• Dukuh Paruk kembali menjatuhkan pundak-pundak yang berat kembali bersimbah air mata.
Majas metafora:
• Mereka pantas berkejaran, bermain dan bertembang. Mereka sebaiknya tahu masa kanak-kanak adalah surga yang hanya sekali datang.
Majas hiperbola:
• Aku bisa mendengar semua bisik hati yang paling lirih sekalipun.
• Aku dapat melihat mutiara-mutiara jiwa dalam lubuk yang paling pingit.
Majas simile:
• Seekor burung pipit sedang berusaha mempertahankan nyawanya. Dia terbang bagai batu lepas dari ketapel sambil menjerit-jerit sejadinya.
• Ibarat meniti sebuah titian panjang berbahaya, aku hanya bisa menceritakannya kembali, mengulas serta merekamnya setelah aku sampai di seberang.
• Malam hari berlatar langit kemarau, langit seperti akan menelan segalanya kecuali apa-apa yang bercahaya.
Majas sindiran
• Si tua bangka ini sungguh sungguh tengik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.