Bacalah dengan cermat artikel berjudul ”Pak Raden dan Kisah Multikulturalistik” berikut ini

Diposting pada

1. Bacalah dengan cermat artikel berjudul ”Pak Raden dan Kisah Multikulturalistik” berikut ini.
2. Temukan dan tandai informasi yang kamu peroleh dari artikel berikut ini. Kemudian, tulislah pada kolom yang telah disediakan (kerjakan di buku tugasmu).

Jawaban
1. Pendapat:
a. JUMAT, 30 Oktober, tepat seminggu yang lalu, Indonesia kembali kehilangan seniman “dongeng” paling berpengaruh dalam perkembangan seni, terutama di kalangan anak-anak era 80-an.
b. Kisah cerita si boneka kayu ini adalah legenda bagi semua anggota generasi 80-an sampai awal 90-an.

Fakta:
Pak Raden alias Suyadi adalah seniman senior sekaligus pencipta kisah boneka kayu “Si Unyil”, sebuah film seri televisi Indonesia produksi PPFN.

2. Fakta:
a. Sedikit bercerita, kisah Si Unyil yang diciptakan Pak Raden, alumnus seni rupa ITB ini, diilhami dari pertunjukan wayang atau boneka kayu anak-anak di Prancis.
b. Karakter boneka anak tersebut dinamai Guignol.
c. Ia tokoh boneka yang diciptakan pada 1808 oleh Laurent Mourguet, seorang marionnettiste (dalang perempuan).
d. Sampai saat ini Guignol masih digunakan sebagai hiburan anak-anak melalui pertunjukan di teater Guignol.
e. Ia juga menjadi ikon atau maskot Kota Lyon, Prancis.
f. Antusiasme anak-anak Lyon untuk menikmati hiburan Guignol ini masih sangat tinggi sampai sekarang.
Pendapat:

3. Fakta:
a. Setelah beberapa kali menyaksikan pertunjukan Guignol, memang cukup berbeda dengan legenda Si Unyil.
b. Pentas Guignol adalah murni sebagai ajang hiburan anak-anak Kota Lyon dan sekitarnya, tempat pusat teater Guignol berada.
Pendapat:
Dari segi ide cerita, hampir tidak ada muatan edukasi di dalamnya.

4. Fakta:
a. Cerita Guignol sebatas cerita-cerita ringan anak-anak.
b. Berbeda dengan kisah Si Unyil.
c. Dalam beberapa cerita, kisah Unyil memang memiliki muatan ideologis dan muatan politis tertentu.
d. Ketika saat itu, Orde Baru masih berjaya, ia pun menggunakan media film anak-anak untuk mempertahankan eksistensinya.
e. Melalui Unyil, pemerintah juga turut menyosialisasikan banyak program atau kebijakannya seperti Keluarga Berencana, ajakan melakukan ronda malam, sekolah, dan lainnya.
f. Ini tidak berbeda dengan kisah Guignol pada masa awal kemunculannya. Guignol juga menjadi instrumen politik pemerintah Prancis di kala itu.

Pendapat:

5. Fakta:
a. Kisah Unyil sangat menghegemoni jagat hiburan anak-anak di eranya, ketika stasiun televisi swasta belum bertaburan seperti sekarang.
b. Sosialisasi kebijakan pemerintah melalui media anak-anak ini pun kemudian menjadi sangat masif.
c. Terbukti, kisah Si Unyil sangat melegenda sampai sekarang meski ia tayang terakhir kali awal era 90-an di TVRI.

Pendapat:

6. Fakta:
a. Ini karena jagat hiburan anak-anak telah berubah mulai era 90-an.
b. Hiburan anak-anak telah digantikan film-film kartun impor: Doraemen, He-man, Sailormoon, Shinchan, Naruto, dan yang lain.
c. Nyaris, mulai era ini, anak-anak kehilangan banyak hiburan bernuansa “Indonesia” yang penuh muatan pendidikan nilai.
Tanggapan:
Ketika stasiun RCTI dan TPI mencoba menayangkan kembali kisah ini, respons anak-anak pun tidak sebagus ketika ditayangkan di TVRI.

7. Fakta:
a. Legenda ini juga mengisahkan kehidupan sosial yang harmonis meski dihiasi banyak perbedaan.
b. Ada tokoh Unyil, Ucrit, Usro, dan Meilani (keturunan Tionghoa) sebagai tokoh utama, Bu Bariah si tukang gado-gado, ada Pak Raden (tokoh dari golongan ningrat), Pak Ableh dan Pak Ogah si penjaga pos ronda (sebagai tokoh kelas bawah), ada Pak Kades dan Hansip yang menggambarkan karakter aparat pemerintah.
Tanggapan:
Kisah Unyil bukan sekadar “kisah ideologis” dan “politis”.

8. Fakta:
a. Keragaman karakter sosial ini menunjukkan bagaimana kisah Si Unyil ingin mengajarkan kepada anak-anak di era itu untuk menghargai perbedaan.
b. Perbedaan kelas sosial adalah hal yang paling tampak dalam film ini, serta perbedaan suku bangsa, sampai bagaimana Unyil menjalin hubungan pertemanan dengan orang Tionghoa (Meilani).
c. Ini terobosan besar yang dibuat Pak Raden ketika isu rasial (Tionghoa) menjadi isu sensitif di masa Orde Baru.
d. Kerja sama yang baik ditunjukkan dalam film ini melalui ajakan kerja bakti, ronda malam atau siskamling yang menjadi “ikon” Orde Baru.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.